Jumat, 08 Maret 2013

Perburuan Juara Serie A: Juara Bertahan Tetap Juara

Serie A 2012-13 masih menyisakan 11 partai. Secara matematis keunggulan enam poin yang milik Juventus atas peringkat kedua, Napoli, dan 11 angka dengan AC Milan selaku penghuni posisi ketiga, masih bisa dikejar. Syaratnya, kedua pesaingnya itu rutin meraup tiga poin pada laga sisa, sembari berharap I Bianconeri terpeleset dalam beberapa laga.
Melongok performa impresif beberapa partai terakhir, Napoli dan Milan bisa memenuhi syarat pertama. Tapi, tidak dengan syarat kedua. Bukannya apa-apa, sepanjang musim ini, Juventus tampil konsisten. Dari 27 laga, skuad asuhan Antonio Conte itu baru empat kali kalah. Noda itu muncul saat bersua tiga tim kuat yakni AS Roma, Inter Milan, dan Milan. Satu kekalahan lagi terjadi ketika menjamu Sampdoria.
Dari 11 laga sisa, Juventus tinggal menyisakan Inter dan Milan sebagai lawan paling berat. Artinya, andai sanggup menang pada sembilan laga lainnya, Andrea Pirlo cs  tetap tak bisa dilewati Napoli meski kalah ketika bertemu dua tim asal Kota Milan.
Perbedaan poin dengan Napoli bukan satu-satunya penegasan kans Juventus meraih scudetto  musim ini. Mereka pun didukung sejarah. Dalam 10 musim terakhir, tim yang berada di puncak klasemen pada giornata ke-27, punya kecenderungan mempertahankan posisi hingga akhir musim. Pengecualiannya terjadi pada 2004-05 dan 2011-12. Gelar juara melayang dari tangan Milan meski pada giornata ke-27 kokoh di puncak klasemen.

Sumber: DuniaSoccer

Perburuan Juara Premier League: 80% Milik Setan Merah

Ada fakta menarik bila membandingkan komposisi klasemen Premier League pada awal Maret musim ini dengan musim lalu. Komposisi lima tim teratas pada periode tersebut dihuni oleh tim yang sama. Selain diisi duo Manchester, persaingan papan atas juga diramaikan trio London, yakni Tottenham Hotspur, Chelsea, dan Arsenal.
Meski komposisinya sama, ada beberapa perubahan dalam peta persaingan. Manchester City yang musim lalu berada di puncak kali ini harus merelakan takhtanya kepada tetangga sekota, Manchester United. Faktor pembeda lainnya adalah tingkat persaingan juara yang lebih renggang.
Musim lalu, jarak antara Man. City dan Man. United di posisi satu dan dua hanya dua poin. The Citizens mendulang 66 poin, sedangkan Red Devils mengoleksi 64 angka. Bahkan, ketatnya persaingan terjadi sampai pekan terakhir. Keberhasilan Man. City tampil sebagai juara disebabkan keunggulan selisih gol atas Man. United.
Beda halnya dengan musim ini. Memasuki awal Maret, Red Devils bisa duduk dengan nyaman di puncak klasemen berkat keunggulan 12 poin atas The Citizens. Alhasil, tim asuhan Sir Alex Ferguson tersebut diramal bakal meraih gelar juara liga yang ke-20. Sebab, dengan hanya mengantongi 59 angka, sulit bagi Man. City mengejar perolehan poin Man. United yang sudah mengoleksi 71 poin.
Selisih poin yang besar dengan peringkat kedua diyakini bakal memuluskan langkah Man. United. Sejak era Premier League, setidaknya ada lima kasus ketika tim pemuncak klasemen pada awal Maret unggul dua digit atas rivalnya. Hasilnya, mereka berhasil mengakhiri musim dengan status juara

Sumber: DuniaSoccer

Stramaccioni Sesali dan Puji Gol Bale

Pelatih Inter Milan, Andrea Stramaccioni membeberkan beberapa penyesalan setelah kekalahan 0-3 dari Tottenham Hotspur, Kamis (7/3). Kekesalan sang pelatih merujuk pada dua dari tiga gol yang diderita I Nerazzurri.
Gol pertama dan ketiga yang dilesakkan The Spurs memang tercipta melalui skenario identik. Para pemain belakang Inter tak mampu mengantisipasi umpan lambung yang dilancarkan I tuan rumah.
"Sejujurnya, Tottenham lebih superior malam ini. Kami menderita karena duel fisik yang diperagakan mereka," ungkap Stramaccioni seperti dilansir Football Italia.
"Dua dari tiga gol lahir dari situasi serupa. Kami tidak mampu mengantisipasi tinggi pemain lawan dan kalah duel udara. Tapi, penyesalan terbesar yakni kami tidak mampu menuntaskan tiga peluang emas," sambung Stramaccioni.
Namun, gol pertama yang dicetak Gareth Bale turut mengundang pujian dari Stramaccioni. Sang pelatih mengaku takjub terkait kemampuan Bale dalam duel udara.
"Saya telah mengatakan dirinya sebagai salah satu pemain menentukan di Eropa. Dengan tandukan kepalanya, dia seperti seorang tengah," tandas Stramaccioni.

Sumber: DuniaSoccer

Modal Negatif Chelsea dari Arena Națională

Chelsea harus menelan pil pahit pada leg pertama babak 16-besar Europa League, Kamis (7/3). Betapa tidak, armada Rafael Benitez takluk dari tim medioker, Steaua Bucuresti.
The Blues memang tampak kesulitan pada awal-awal babak pertama. Pertahanan tuan rumah tampak kokoh dan sulit ditembus. Alhasil, Chelsea cenderung mengandalkan skenario bola mati untuk menebar ancaman.
Petaka The Blues baru datang 10 menit jelang turun minum. Di kotak terlarang, Ryan Bertrand mendorong Raul Rusescu hingga tersungkur. Para penggawa Steaua lantas mengerubuni wasit.
Sang pengadil utama tak lantas mengambil putusan. Dia berkonsultasi dengan wasit keempat, baru melayangkan kartu kuning untuk Bertrand. Rusescu pun mengambil eksekusi titik putih dengan cukup dingin dan mencatat namanya di papan skor.
Pada sisa paruh pertama, pasukan London Biru coba bangkit. Tak kurang dari lima menit, Chelsea menebar ancaman melalui tembakan Yossi Benayoun dan Fernando Torres. Sayang, kedua peluang berhasil dimentahkan oleh penampilan penjaga gawang Ciprian Tatarusanu.
Benitez menerapkan beberapa perubahan pada babak kedua. Benayoun dan Eden Hazard ditarik keluar, sedangkan Juan Mata dan Marko Marin masuk sebagai pengganti.
Benar, intensitas The Blues melalui sisi sayap meningkat. Nama terakhir sempat melepas umpan silang dari sisi kiri. Bratislav Ivanovic menyambut dengan tandukan. Lagi-lagi, aksi heroik Tatarusanu menampik gol penyeimbang tim tamu.
Dua menit jelang waktu normal berakhir, Marin juga sempat menyodorkan bola ke Frank Lampard. Sayang, tendangan Lampard terlalu masih melebar di sisi gawang. Peluit panjang dari wasit pun membuat publik Arena Națională bersukacita.
Kendati demikian, Chelsea masih memiliki asa tersisa. Mereka akan menjamu Steaua di Stamford Bridge pada leg kedua, Kamis (14/3).

SUmber: DuniaSoccer

Jumat, 01 Maret 2013

Terancam Dipecat, Bielsa Bela Diri

Wakil Presiden Athletic Bilbao, Jose Angel Corres angkat bicara soal masa depan pelatih Marcelo Bielsa. Menurutnya, Bielsa kemungkinan dipecat pada akhir musim.
Penampilan buruk Bilbao melatarbelakangi pemecatan Bielsa. Padahal, Fernando Llorente dan kawan-kawan tampil gemilang musim lalu, bahkan mampu menembus final Europa League.
"Dalam kehidupan ini, tidak ada yang sempurna, khususnya jika hasil tidak memuaskan. Bielsa tidak memberikan tantangan, namun kami jelas menghargai usahanya. Kami menyayangkan tim berbeda drastis dari tahun lalu," ujar Corres kepada RNE .
Bielsa tidak tinggal diam menyusul komentar yang diucapkan petinggi klub besutannya itu. Entrenador asal Argentina tersebut tidak mengerti mengapa dirinya kemungkinan diberhentikan musim depan.
"Satu hal yang tidak pernah saya lakukan adalah menentukan tanggung jawab. Saya tidak pernah merasa keterbatasan kebutuhan membatasi kemampuan dalam bekerja. Saya tidak butuh sesuatu dari siapapun," tegas Bielsa, seperti dilansir Football Espana .
"Corres seorang ahli ekonomi bukan? Saya tidak tahu tujuan dari apa yang dia lakukan. Tidak ada seorang pun yang bisa mengatakan keadaan akan menjadi lebih baik atau buruk, saat kami berada dalam langkah yang berkebalikan dari yang seharusnya," tutupnya.

Sumber: DuniaSoccer

Klub Premier League Wajib Pakai Teknologi Garis Gawang

Klub-klub Premier League Inggris akan diwajibkan menggunakan teknologi garis gawang mulai musim 2013-14. Demikian dinyatakan oleh direktur komunikasi Premier League, Dan Johnson.
FIFA sendiri telah mengonfirmasi sistem teknologi garis gawang akan diimplementasikan pada ajang Piala Konfederasi 2013 pada musim panas nanti. Pun pada ajang Piala Dunia 2014.
Sebuah pertemuan Jajaran Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) yang digelar pada Sabtu (2/3) nanti akan menjabarkan laporan mengenai penggunaan teknologi garis gawang yang terbilang sukses pada gelaran Piala Dunia Antarklub di Jepang lalu.
Dan, tampaknya Premier League berniat mengikuti langkah inovatif tersebut. Hal tersebut telah diamini Dan Johnson. Bahkan, dikatakannya, klub-klub Premier League tidak boleh mengingkari kebijakan baru teknologi garis gawang yang akan berlaku mulai musim depan.
"Kami sedang dalam diskusi lebih lanjut dengan dua perusahaan (Hawkeye dan GoalRef ) yang menyediakan sistem tersebut dan tengah bekerja untuk memasang teknologi garis gawang tepat sebelum awal musim depan," tuturnya.
"Semua klub, tak terkecuali klub-klub promosi, wajib memiliki sistem ini untuk memastikan integritas universal dalam kompetisi," lanjut dia.

Sumber: DuniaSoccer

"Sejak Kecil, Bale Lebih Bagus Dari Walcott"

Eks manajer Southampton, George Burley, mengatakan penilaiannya terhadap Gareth Bale dan Theo Walcott pada masa lampau saat ini telah terbukti kebenarannya. Menurutnya, sejak kanak-kanak bintang Tottenham Hotspur itu bermain lebih baik ketimbang sang bintang Arsenal.
Burley memberikan kesempatan kepada Bale untuk melakoni debutnya di St. Mary's tiga bulan setelah Walcott dijual ke Arsenal. Dan, menurutnya, keputusan untuk bertahan lebih lama di Soton telah menjadi kunci bagi Bale untuk menapaki karier sebagai bintang sejak bergabung ke Tottenham.
Duo pemain termuda yang pernah berkostum The Saints itu kini sudah berusia 23 tahun. Keduanya akan berhadapan dalam Derby London Utara pada Minggu (3/3) mendatang.
Soal siapa yang lebih baik, Burley pun yakin sepenuhnya Bale memilih potensi yang lebih besar ketimbang Walcott. Ucapan Burley itu terbukti dari pundi gol yang dikoleksi Bale. Sang pemain sudah mencetak sembilan gol dalam tujuh laga terakhir bersama klub dan negaranya. Burley pun yakin Bale akan bisa menjadi penakluk dunia.
"Saya selalu berpikir Gareth adalah prospek yang lebih baik sejak dulu. Theo memiliki atribut berbeda. Gareth adalah paket ang lebih lengkap dalam hal kualitas saat mengolah bola," paparnya.
"Theo meninggalkan Southampton saat berusia 16 tahun. Itu adalah usia yang benar-benar muda untuk kariernya. Dia tak memiliki banyak pengalaman bertanding. Sementara, Gareth memiliki dua musim (di Soton). Saya pikir karenanya Gareth telah berkembang menjadi pemain yang lebih baik," imbuh dia.
Sementara itu, Burley juga bercerita soal debut Bale pada April 2006. Saat itu, Bale barulah berusia 16 tahun 275 hari. Dia menjadi pemain termuda kedua yang tampil bagi tim senior Soton setelah Theo Walcott yang lebih muda 132 hari.
"Selama dua tahun dia bermain dalam setiap pertandingan. Dia memiliki kemampuan luar biasa dengan kaki kiri yang magis. Jelas, saat itu dia masih bermain sebagai bek kiri. Meski begitu, dia tetap luar biasa," kenang Burley

Sumber: DuniaSoccer

Jamu Arsenal, Bale Berhasrat Balas Dendam

Pemain sayap andalan Tottenham Hotspur, Gareth Bale, berharap timnya mampu membalas dendam terhadap sang rival sekota, Arsenal. Tottenham menderita kekalahan telak dengan skor 2-5 saat bertanding menghadapi pasukan Arsene Wenger di Emirates Stadium pada pertemuan pertama di liga musim ini.
Saat ini, The Lilywhites sendiri tengah bertengger di peringkat ketiga klasemen sementara Premier League, sementara The Gunners berada di peringkat ke-5 dengan tautan 4 poin di antara keduanya.
Namun, keunggulan sementara ini tidak membuat Bale merasa di atas angin jelang pertemuan kedua tim, Minggu (3/3). Terlebih, kedua klub juga masih bersaing untuk menembus zona aman Liga Champions.
"Kami hanya ingin menang. Terakhir kali, kami mengawali laga dengan baik, tetapi pengusiran (terhadap Emmanuel Adebayor) itu menjadi sebuah masalah," ungkapnya.
"Kami ingin memperbaiki diri dan berharap untuk meraih tiga poin. Kami akan bermain dengan percaya diri, mendapatkan poin sempurna akan membantu kami untuk menembus zona Liga Champions nantinya. Ini merupakan laga besar. Kami tahu seberapa besar itu, tidak hanya buat kami, tetapi juga bagi para fans," pungkasnya.

Sumber: DuniaSoccer

Napoli vs. Juventus: Ayo Pangkas Poin!

Napoli tengah berupaya untuk bangkit dari serentetan hasil kurang memuaskan dalam beberapa laga terakhir. Namun anak asuh Walter Mazzarri harus menghadapi jalan terjal. Napoli dijadwalkan menjamu Juventus di San Paolo, Jumat (1/3).
Tiga poin jelas dibutuhkan kedua tim untuk menjaga impian merebut scudetto musim ini. Dengan kemenangan, Napoli mampu memangkas jarak enam poin dari Juventus yang duduk nyaman di puncak klasemen Serie-A.
Kekalahan merupakan hasil yang diharamkan bagi kedua kubu. Jika kalah, Napoli tentu semakin sulit mengejar ketinggalan poin dari Juventus. Begitu pula Juventus yang mengincar hasil positif di markas Napoli untuk mengokohkan posisi mereka.
Lini belakang Juventus dipastikan bakal kembali diperkuat Giorgio Chiellini yang absen sejak Desember akibat cedera. Hal ini menjadi ujian tersendiri bagi striker Napoli yang menjadi top skorer sementara, Edinson Cavani. (Yosua)
REKOR PERTEMUAN
  • Dalam enam pertemuan terakhir di San Paolo pada ajang Serie-A, Napoli belum sekali pun kalah dari Juventus
  • Kemenangan tandang terbesar Juventus di kandang Napoli terjadi pada musim 1974-75 dengan skor 6-2
  • Juventus belum terkalahkan dalam empat laga terakhir di Serie-A melawan klub asal kota Naples
NAPOLI
  • Dalam lima laga terakhi di berbagai ajang, Napoli tidak pernah meraih kemenangan
  • Tiga laga terakhir di Serie-A, Napoli hanya mampu bermain imbang menghadapi lawannya
  • Edinson Cavani belum mencetak gol dalam 500 menit terakhir saat tampil di lapangan hijau
JUVENTUS
  • Musim ini, Juventus hanya menelan dua kekalahan tandang, masing-masing dari AC Milan dan AS Roma dengan skor 0-1
  • Pertandingan tandang terakhir, Juventus harus takluk 0-1 dari AS Roma di Olimpico
PRAKIRAAN LINE-UP
Napoli (3-4-1-2): De Sanctis, Campagnaro, Cannavaro, Britos, Mesto, Behrami, Inler, Armero, Hamsik, Cavani, Insigne
Juventus (3-5-2): Buffon, Barzagli, Bonucci, Chiellini, Lichtsteiner, Vidal, Pirlo, Marchisio, Asamoah, Vucinic, Giovinco
PREDIKSI DUNIASOCCER
Napoli menang: 30%
Seri: 30%
Juventus menang: 40%

Sumber: DuniaSoccer

Raphael Varane, The Next Bernabeu Legend

Awal Januari 2013, Pepe dinyatakan absen selama sebulan. Bek tengah Real Madrid itu diharuskan menjalani operasi pada engkel kaki kanannya. Pendukung Madrid menduga Raul Albiol akan diplot untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Pepe, seperti yang sudah ditunjukkan selama ini.
Entrenador  Jose Mourinho rupanya punya pandangan lain. Dia memilih Raphael Varane, bek berumur 20 tahun, untuk menggantikan Pepe. Publik sempat terhenyak dengan putusan itu. Maklum, meski sudah mengenal kultur Madrid selama setahun, reputasi Varane tak terlalu gemilang. Musim lalu, dia hanya tampil sembilan kali.
Di luar dugaan, Varane mampu menyita perhatian. Ketika diberi kepercayaan penuh, dia mampu tampil memesona. Terbukti, Mourinho memberinya kepercayaan sebagai pemain inti dari pekan ke-18 hingga 24. Puncak penampilannya terjadi pada leg 1 semifinal Copa del Rey kontra Barcelona, akhir Januari lalu. Bek yang baru saja dipanggil timnas senior Prancis tersebut tampil apik. Selain taktis, dia mencetak satu gol yang menyelamatkan Madrid dari kekalahan.
Usai pertandingan, media-media Spanyol memuji penampilan mantan pemain Lens tersebut. “Seorang kaisar telah lahir. Dia memberi napas di El Clasico . Dia menggagalkan satu gol dan menyelamatkan Madrid lewat penyelesaiannya yang sempurna,” tulis El Mundo . “Barca tak bisa menjaga Varane,” judul di Harian El Pais .
Direktur Olahraga Barcelona, Andoni Zubizarreta, juga mengakui talenta dan kehebatan Varane. “Dia sangat luar biasa. Performanya tidak mengejutkan saya. Anda harus menjadi pemain bagus untuk bisa mengenakan kostum Real Madrid,” ucapnya.
Toh, pujian itu tak membuat Varane berbesar hati. Meski demikian, dia mengaku bangga karena musim ini dia mampu membuktikan kualitasnya. “Seperti mimpi yang menjadi kenyataan,” sebutnya.

Sumber: DuniaSoccer

Diego Lopez Siap Bungkam El Barca Untuk Kedua Kalinya

Kemenangan berhasil diraih Real Madrid kala menyambangi markas Barcelona, Camp Nou, pada leg 2 babak semifinal Copa Del Rey. Hasil itu membawa Madrid melaju ke final guna menantang Atletico Madrid. Tak cuma itu, rasa percaya diri Madrid pun meninggi, hingga optimistis bisa meraih hasil serupa pada laga El Clasico jilid VI, Sabtu (2/3) menatang.
Di Liga BBVA, Madrid memang masih sekali lagi bersua Barcelona, Dan kesempatan itu akan tersaji di Santiago Bernabeu. Dengan modal hasil kemenangan pada kunjungan terakhir ke Camp Nou, kiper El Real, Diego Lopez yakin pencapaian positif bisa diraih lagi.
"Laga yang sempurna. Hasil itu memberikan rasa percaya diri. Liga BBVA ajang yang berbeda dan mereka akan mengejar kemenangan. Jadi, kami bisa menjadikan laga itu (semifinal Copa Del Rey) sebagai contoh untuk direplika," ujar kiper yang baru didatangkan kembali pada Januari lalu itu.
Berkat penampilan apik di Camp Nou, Lopez pun merasa timnya sangat tenang menyambut pertemuan berikutnya. "Laga penting melawan tim hebat dan kami bermain di pertandingan level atas. Ambisi kami adalah tak kalah dan kami sangat santai menyambut laga tersebut," pungkas dia

Sumber: DuniaSoccer

El Clasico di Bernabeu, Casillas Berpeluang Tampil

Kabar baik menghampiri kubu Real Madrid. Pasalnya, penjaga gawang andalan sekaligus kapten mereka, Iker Casillas, kondisinya kian membaik.
Casillas absen sejak akhir Januari lalu akibat cedera jari tangan sebelah kiri. Akibat cedera tersebut, penjaga gawang berusia 31 tahun tersebut bahkan telah kembali berlatih.
Seperti dikutip dari AS , Casillas diberi porsi latihan terpisah dengan menggunakan bola untuk pertama kalinya setelah menjalani operasi tangan di pusat latihan Valdebas, Kamis (28/2) pagi waktu setempat.
Meski begitu, Casillas masih memerlukan proses rehabilitasi lanjutan untuk memulihkan cedera tangan yang dialaminya. Madrid tentu berharap, Casillas bisa tampil saat menghadapi Barcelona di Santiago Bernabeu dalam lanjutan Liga BBVA, Sabtu (2/3).
Selain Casillas, dua pilar Madrid lainnya pun mulai kembali secara terpisah berlatih pascapulih dari cedera. Mereka adalah Jose Callejon dan juga Raul Albiol.

Sumber: DuniaSoccer

Ronaldo vs Messi: Bagai Saudara Kembar

Setiap kali Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi dipertemukan, selalu muncul pertanyaan siapa yang terbaik di antara keduanya. Debat ini rasanya masih jauh dari usai. Seperti halnya perjalanan kedua megabintang tersebut di sepak bola dunia. Bahkan debat itu sepertinya akan tetap ada walaupun keduanya telah sama-sama gantung sepatu.
Menilik performa dalam dua musim terakhir, Ronaldo harus mengakui kegemilangan Messi. Sepanjang 2012, La Pulga  mampu menorehkan 91 gol di semua ajang. Sepanjang musim 2011-12 pun dia sanggup mencetak rekor gol terbanyak dalam semusim dengan koleksi 50 gol.
Kegemilangan La Pulga  itu seolah menenggelamkan CR7 . Meski demikian, pemain asal Portugal itu sebenarnya punya kontribusi besar bagi Real Madrid. Total 24 gol yang telah dicetak musim ini di Liga BBVA merupakan 38% dari total gol yang dikoleksi Madrid musim ini.
Di sisi lain, meski kalah dalam urusan teknis di lapangan, Ronaldo mampu menunjukkan kebaikan hatinya di luar lapangan. Banyak pihak menyebut Ronaldo sosok yang arogan dan sombong. Ternyata, CR7 masih menyimpan hati yang lembut dan dikenal sangat dermawan.
Harian Portugal, A Bola , beberapa waktu lalu merilis foto yang menunjukkan kelembuhan hati CR7. Usai bertanding melawan Granada, Ronaldo didekati seorang anak laki-laki. Ronaldo menyambut anak laki-laki itu dengan mengusap kepala dan menggandengnya hingga pihak keamanan stadion menjemput si anak.
Anak laki-laki tersebut juga mencoba mendekati Messi usai laga Granada kontra Barcelona di lain pekan. Tapi, sambutan yang diberikan Messi berbeda. Messi yang dikenal rendah hati ini justru terkesan dingin. Fakta ini menunjukkan jika Messi pun bisa bersikap sombong seperti yang selama ini seolah diplot sebagai sifat Ronaldo.
Ronaldo dan Messi memang laik masuk jajaran pemain terbaik yang pernah ada. Namun, mereka tetap manusia biasa. Perdebatan siapa yang terbaik rasanya belum mendekati akhir. Keduanya punya kekurangan dan kelebihan yang akan terus dibicarakan hingga akhir zaman.

Sumber: DuniaSoccer